img
img

Wisata & Budaya

Kamis, 25 Oktober 2018 | Oleh: HMS04

Pengobatan Tradisional Dari Suku Dayak Bulusu, Nyingiang

Pengobatan Tradisional Dari Suku Dayak Bulusu, Nyingiang

Malinau-Dari jaman dahulu sampai sekarang, pengobatan tradisional masih banyak dilakukan. Salah satunya adalah suku Dayak Bulusu yang ada di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Pada peringatan HUT Kabupaten Malinau ke-19 dan Irau ke-9 ini, Rabu (24/10) suku dayak Bulusu menampilkan upacara adat pengobatan orang sakit dengan cara tradisional yang disebut Nyingiang.
Nyingiang adalah ritual adat untuk orang sakit yang merupakan tindakan terakhir yang dalam bahasa Bulusu (Sitiar) yang ditempuh oleh keluarga yang butuh pengobatan alternatif jika ada anggota keluarga yang tidak kunjung sembuh.
Ketua Lembaga Adat Bulusu, Drs. Jabin Jantje menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah daerah Malinau yang telah memberikan kesempatan kepada suku-suku terutama hari ini suku dayak Bulusu untuk menampilkan upacara adatnya. Tentunya hal ini untuk menjaga kearifan lokal agar tetap lestari dan dijaga secara turun temurun juga mempererat persatuan dan kesatuan antar suku dan paguyuban yang ada di Malinau.
Sebelum mengambil keputusan untuk Nyingiang, keluarga yang memilih alternatif ini akan melakukan musyawarah (Bapakot/Buputu) karena semua anggota Nyingiang akan diberikan imbalan berupa tempayan (Belanai Laid) yaitu tempayan dengan nilai tinggi. Ritual dilakukan selama 3-4 hari berturut-turut dipimpin oleh orang tua yang sudah berpengalaman dalam ritual ini serta telah menyembuhkan orang banyak (Bilian) dengan anggota Nyingiang berjumlah 6-20 orang dan pemain musik berjumlah 2 orang.
“Suatu penampilan yang membanggakan dari suku dayak Bulusu yang menginspirasi dan memotivasi kita semua dalam rangka kita membangun Kabupaten Malinau,”ucap Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si saat menyampaikan sambutannya.
Bupati Yansen banyak menerima pertanyaan mengapa lembaga adat dan paguyuban diminta untuk menampilkan upacara adat/seni budayanya. Bupati menjawab bahwa pada hakekatnya masyarakat Malinau yang tersebar sampai dipelosok desa memiliki kebudayaan yang harus di munculkan. Jika tidak dimunculkan maka desa atau budaya itu akan tertinggal dari daerah lainnya. “Disebut dayak tapi tidak ada aktivitas, disebut Jawa tidak ada aktivitas, hanya nama saja sehingga kerangka budayanya tidak berarti apa-apa,” tegasnya.
Dayak Bulusu mungkin hampir sama dengan suku dayak lainnya, tetapi tetap ada bedanya. Perbedaan ini harus nyata. Itulah artinya kita bersatu.
“Mahal. Kesempatan kita untuk mengekspresikan budaya kita, ini yang mahal,” ujar Bupati.
Mari bangkitkan semangat budaya kita sebagai identitas kita. Bangun pikiran positif, utamakan hal-hal baik dipiran kita.(hms)

“Saya ada untuk semua”
“Bersama kita pasti bisa”

Baca Juga

Berita Utama Index

Kegiatan TMMD Rampung 100%

Kegiatan TMMD Rampung 100%

Selasa, 13 November 2018

Malinau-Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di kabupaten Malinau resmi ditutup oleh Kasat TNI Ilyas Alamsyah di Lapangan Sepakbola Desa Kaliamok Kecamatan Malinau Utara, Selasa (13/11). Menurut laporan Dandim Malinau Letkol Kav Yudi Suryatin,

Berita Foto Index

Pesta Budaya 2018

Pesta Budaya 2018

Minggu, 23 September 2018

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya