img
img

Berita Warga

Selasa, 13 Maret 2018 | Oleh: HMS04

Demi Sembako dan BBM, Perbaiki Jalan secara Manual

Demi Sembako dan BBM, Perbaiki Jalan secara Manual KRISIS SEMBAKO DAN BBM: Masyarakat Desa Long Sule dan Long Pipa, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau dengan penuh perjuangan mengangkut sembako dan memperbaiki jalan dengan alat secara manual. ist

PROKAL.CO, Pemerintah Pusat sedang gencar-gencarnya membangun daerah perbatasan yang katanya merupakan beranda depan negara. Hal itu dilakukan sesuai dengan salah satu nawacita Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran atau perbatasan. Namun, program itu apakah sudah mencapai daerah-daerah Kalimantan Utara (Kaltara)?

PROGRAM nawacita dari Presiden yang akrab disapa Jokowi ini telah menyentuh masyarakat perbatasan Kaltara, karena sudah ada beberapa program pembangunan infrastruktur di perbatasan yang berjalan.

Namun, apakah karena anggaran negara saat ini terbatas akibat dari penurunan pendapatan, atau bisa jadi sudah masuk dalam rencana pembangunan tapi belum terealisai atau masih menunggu antrean, karena masih membangun daerah perbatasan lainnya, sehingga dua desa di Kecamatan Kayan Hilir, Desa Long Sule dan Long Pipa, yang masyarakatnya butuh dua pekan hingga satu bulan perjalanan dengan menggunakan mobil, dilanjutkan jalan kaki dan perahu kecil untuk mendapatkan sembako dan Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Kendala kami di sana (Long Sule dan Long Pipa) itu, terutama masalah transportasi darat, sehingga tidak ada jalur yang bisa ditempuh untuk distribusi sembako dan BBM ke sana,” ujar Petrus, Koordinator Kecamatan Kayan Hilir yang bertugas di Desa Long Sule dan Long Pipa, saat ditemui Radar Tarakan di Bandara Kolonel RA Bessing Malinau, Kamis (8/3).

Saat ini, jelas Petrus, akses selain jalur darat dan sungai yang bisa warga pakai sedang rusak parah dan akses transportasi satu-satunya yang lain adalah menggunakan pesawat terbang berbadan kecil. Namun, biayanya terlalu berat bagi warga untuk membawa sembako dan BBM, karena saat ini program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten belum berjalan.

“Sebenarnya ada juga satu-satunya akses jalan yang biasa dilewati, yaitu dari Muara Wahau, tapi kondisinya sekarang ini mengalami rusak berat,” ungkapnya.

Dirinya mengaku pihaknya tidak berpangku tangan menghadapi masalah tersebut, karena pada Januari lalu telah mengadakan pertemuan di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dengan para sopir, masyarakat setempat serta para pedagang yang biasa menggunakan jalan di sana itu untuk memfasilitasi permohonan masyarakat Desa Long Sule dan Long Pipa, agar ada bantuan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar jalan tersebut untuk memperbaiki jalan itu.  Pihaknya melakukan pertemuan di Muara Wahau karena akses jalan yang dilewati adalah jalan bekas kegiatan perusahaan yang ada di provinsi yang bertetangga dengan Kaltara tersebut. “Kami hadir ke sana, laporan dari para sopir dan masyarakat, jalan mengalami rusak berat. Tepatnya di kilometer 76 sampai 97 ada 75 titik yang rusak berat. Itu masih di wilayah Wahau dan kami  juga berkoordinasi dengan Camat Muara Wahau, Irang Ajang, dalam hal ini beliau tidak keberatan dan sangat mendukung kepada masyarakat kita untuk memperbaiki jalan itu,” kata Petrus lagi.

Daalam pertemuan tersebut, pihakya juga sudah berkomunikasi dengan Camat Muara Wahau untuk minta tolong bisa memfasilitasi untuk meminta bantuan kepada pihak perusahaan agar dapat membantu perbaikan jalan dan dari pihak perusahaan sudah siap membantu dengan menyediakan alat berat bersama operator serta alat lainnya. Namun, sebutnya, biaya bahan bakar dibebankan kepada masyarakat, para sopir dan para pencari kayu gaharu di sana. “Itu (lokasi) di Muara Wahau sampai di Sungai Telen yang masih daerah Kutai Timur,” bebernya.

Namun Petrus sangat menyayangkan lantaran alat berat tersebut hanya sampai Sungai Telen, karena tidak bisa menyeberangi sungai. Sehingga untuk jalan di seberangnya yang juga masih wilayah Kutai Timur sampai masuk wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Malinau, diperbaiki dengan alat seadanya menggunakan tenaga manual. “Itu juga masih wilayah Kutai Timur dan itu ada sekitar 30 titik yang rusak. Jadi terhitung dengan yang bisa dikerjakan dengan alat berat sekitar 100 titik jumlahnya yang rusak. Nah sehingga itu menjadi hambatan para sopir untuk mengangkut sembako dan BBM ke Long Sule dan Long Pipa,” tuturnya, sambil mengatakan bahwa karena itulah yang memperbaiki jalan itu mulai Januari hingga saat ini belum tembus ke Long Sule.

“Dari Muara Wahau sampai kilometer 97, mobil itu hanya sampai di seberang saja, karena ada sungai besar, Sungai Telen. Tidak ada jembatan, tidak ada rakit dan perahu, sehingga barang itu dilansir pakai tali (kawat),” tambahnya.

Di seberang sungai, ada mobil yang sudah siap mengangkut sampai Metun, Kayan Hilir, dan perjalanan dari sungai tersebut kalau jalan bagus, membutuhkan waktu hingga dua pekan baru sampai ke Long Sule. Namun, di seberang sungai itu juga barang tidak bisa langsung dinaikkan ke mobil, karena harus diangkut dengan cara dipikul kurang lebih 300 meter dan jalannnya menanjak karena harus naik ke atas puncak. Sesampainya di Metun, harus melewati akses jalan sungai lagi yang memakan waktu satu hari baru sampai di Desa Long Sule. “Kalau jalan lancar dan jalan tidak terlalu banyak rusak, dua pekan sampai, kalau musim penghujan bisa sampai sebulan. Sehingga masyarakat di perbatasan sekarang ini mengalami krisis sembako dan BBM. Harapan masyarakat satu-satunya saat ini dengan SOA barang ke perbatasan,” katanya.

Sebenarnya, kata Petrus lagi, jalan yang dilewati itu sangat berisiko pada keselamatan manusia, tapi tetap dilewati karena hanya jalan itu saja yang bisa dilewati. Diungkapkannya, jalan yang mereka lewati itu merupakan jalan perusahaan yang sudah lama tidak dipakai atau tutup.

“Jadi kami harap pemerintah pusat tidak ragu-ragu mengalokasikan dana ke Kabupaten Malinau, terutama diprioritaskan jalan yang dari Long Top (Kecamatan Sungai Boh) tembus ke Long Sule. Itu harapan kami,” ujarnya mengungkapkan harapan dari penduduk dua desa yang berjumlah 1.085 jiwa dan 204 kepala keluarga ini.

Merespons laporan masyarakat Desa Long Sule dan Long Pipa terkait kelangkaan sembako dan BBM, Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si memerintahkan stafnya untuk segera membantu masyarakat di dua desa tersebut dengan membantu ongkos angkutan penerbangan untuk mengangkut sembako dan BBM.

“Mulai hari ini dilaksanakan kegiatan pengangkutan sembako maupun BBM ke Long Sule dan Long Pipa itu dikarenakan terjadi kelangkaan di sana,” ujar Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi Sekretariat Kabupaten (Setkab) Malinau, Yuli Triana, S.Sos, M.Si saat ditemui Radar Tarakan, usai melihat langsung pemberangkatan penerbangan yang mengangkut sembako dan BBM ke Long Sule dan Long Pipa, di Bandara Kolonel RA Bessing Malinau, Kamis (8/3).

Dijelaskan Yuli Triana, kelangkaan tersebut karena jalur distribusi sembako dan BBM masyarakat di dua desa tersebut jalannya rusak dan tidak bisa dilewati masyarakat. Sedangkan akses transportasi lainnya hanya menggunakan pesawat. “Biasanya melalui Muara Wahau (Kutai Timur), karena ada titik-titik yang longsor, sehingga jalur distribusi tidak bisa dilewati,” katanya.

Permasalahan itu, kata mantan Kabag Tata Pemerintahan Setkab Malinau ini, sudah sampai ke telinga Bupati, dan pihaknya telah diperintahkan Bupati agar secepatnya melakukan pendistribusian barang-barang yang memang sangat dibutuhkan masyarakat di dua desa ini. “Nah itulah pada hari ini, MAF (pesawat Mission Aviation Fellowship) bisa mengangkut solar, karena solar dibutuhkan masyarakat. Jadi rate pertama membawa solar, gula, kopi, minyak makan dan pada rate yang kedua akan diangkut bensin (premium),” sebutnya.

Ditegaskan Yuli, bantuan biaya ongkos angkut ini sepenuhnya dibayar oleh Pemkab. “Ini bukan Subsidi Ongkos Angkut (SOA), bukan. Ini free, pemerintah menyediakan penerbangan yang gratis untuk menghadapi masalah yang dialami oleh masyarakat  di sana,” tegasnya, seraya mengatakan bahwa hal itu dilakukan karena urgen dan masyarakat di dua desa tersebut sangat membutuhkan.

Terkait pembangunan jalan, Pemkab Malinau saat ini tidak bisa berbuat terlalu banyak, karena sudah dua tahun terakhir mengalami penurunan pendapatan.  Oleh sebab itu, Pemkab Malinau berharap ada perhatian khusus dari pemerintah pusat untuk bisa mengalokasikan dana transfer daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau melalui dana transfer lainnya. (ash)

Baca Juga

Berita Utama Index

Aco Lundayeh Siap Dilaksanakan !

Aco Lundayeh Siap Dilaksanakan !

Kamis, 28 Juni 2018

Malinau-Perhelatan Aco Lundayeh tinggal menghitung hari. Acara yang menampilkan seni budaya ini akan dihadiri etnis Lundayeh sedunia yang dilaksanakan bulan Juli nanti. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) Dr. Yansen

Berita Foto Index

Mars Korpri

Mars Korpri

Rabu, 21 Februari 2018

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya