img
img

Berita Warga

Jum'at, 12 Januari 2018 | Oleh: HMS04

Jembatan Darurat Hancur, Jalan Long Pada Putus

Jembatan Darurat Hancur, Jalan Long Pada Putus

MALINAU - Pekerjaan rumah pemerintah daerah, khususnya Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Permukiman Rakyat (DPUPR Perkim) tahuh ini bertambah. Akibat dari putusnya jalan menuju Desa Long Pada dan sekitarnya, Kecamatan Sungai Tubu.
“Jalan biasa kami lewat sekarang sudah nggak bisa kami pakai karena putus. Jadi kami harus ikut jalan perusahaan,” ungkap Ny Dewi Julianti, Kepala SMPN Long Pada, kemarin (8/1) saat bertemu dengan media ini di Kantor Dinas Pendidikan. Jalan yang putus terletak pada titik yang dilalui anak sungai.
Menurut Dewi Juliyanti, setidaknya ada 5 titik pada ruas jalan menuju Long Pada yang rusak dan putus. Yaitu pada ruas jalan dari Sei Mirau sampai Long Pada.
Pantauan media ini sebelumya, pada ruas jalan sepanjang sekitar 30 KM dibagian tersebut, memang terdapat sekitar 5 titik yang terancam putus. Titik-titik yang melalui anak sungai yang sementara disambung dengan jembatan darurat. “Sudah lama memang beberapa titik di sana mau putus. Kalau tidak kami sama orang-orang di sana akali dari dulu sudah terputus,” imbuh Wanto, sopir angkutan yang selama ini melayani rute Malinau Long Pada.
Selain putus pada bagian jembatan darurat beberapa bagian jalan tersebut juga terancam putus oleh longsor. Pantauan media ini, ada beberapa titik badan jalan yang terbelah karena longsor. “Gangguannya itu saja. Kalau kondisi jalan memang begitulah adanya masih tanah karena baru dibuka,” imbuh Wanto. Meski medannya berat, sebelum putus, jalan tersebut masih aman untuk dilalui.
Untuk mencapai Long Pada, warga harus melalui jalan perusahaan kayu PT Inhutani II dan sebagian ruas jalan yang dibangun pemerintah pusat dengan APBN. “Dari Mirau belok ikut jalan APBN lalu lewat jalan perusahaan. Kalau terus lewat jalan APBN sangat sulit karena kondisinya berat,” sambung Dewi Julianti. Selain medan yang lebih sulit, rute yang ditempuh pun lebih jauh. Selisih waktu dengan jalan lama sekitar setengah hingga satu jam. “Bisa lebih lama lagi kalau kondisi habis hujan,” imbuhnya lagi.
Untungnya perubahan rute dan penambahan kesulitan di jalan tidak membuat tarif angkutan ke sana jadi naik. Tarif angkutan ke sana tetap saja Rp3, 5 juta satu kali jalan. Kendaraan yang digunakan adalah kendaraan dobel gardan. “Makanya kalau kami turun ke Malinau harus sama-sama. Kalau sendiri tetap saja bayar Rp3,5 juta. Kalau rombongan kan bisa lebih ringan,” pungkas Dewi. Ia berharap perbaikan segera dilakukan oleh pemerintah daerah pada titik-titik jalan putus tersebut. (wh/Koran Kaltara)

Baca Juga

Berita Utama Index

Aco Lundayeh Siap Dilaksanakan !

Aco Lundayeh Siap Dilaksanakan !

Kamis, 28 Juni 2018

Malinau-Perhelatan Aco Lundayeh tinggal menghitung hari. Acara yang menampilkan seni budaya ini akan dihadiri etnis Lundayeh sedunia yang dilaksanakan bulan Juli nanti. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) Dr. Yansen

Berita Foto Index

Mars Korpri

Mars Korpri

Rabu, 21 Februari 2018

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya