img
img

Info Kaltara

Rabu, 26 Juli 2017 | Oleh: HMS04

Pilu Petaka di Laut Kaltara

Pilu Petaka di Laut Kaltara KECELAKAAN LAUT: Speedboat Rejeki Baru Kharisma rute Tarakan – Tanjung Selor yang baru saja lepas dari pelabuhan Tengkayu Tarakan, terbalik di perairan Tarakan, Selasa (25/7) pukul 10.45 Wita. 10 orang meninggal dunia dalam lakalaut tersebut. Dugaan kuat speedboat overload penumpang dan barang. FOTO: ANTHON JOY/RADAR TARAKA

PROKAL.CO, TARAKAN – Kemarin pagi, cuaca Bumi Paguntaka seakan tak menunjukkan firasat apapun. Terik matahari pagi masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun, nahas tak dapat ditolak. Tepat pukul 10.45 wita saat speedboat Rejeki Baru Kharisma lepas dari dermaga Tengkayu (SDF), selang berapa waktu kemudian speedboat tersebut terbalik.

Seluruh permukaan atas kapal berbalik. Sontak penumpang di dalamnya dibuat kaget dan panik. Air mulai masuk memenuhi sisi-sisi speedboat tersebut, hingga tidak ada lagi ruang untuk bernapas. Sementara, life jacket tidak berada dekat dengan penumpang.

Dari data manifest terakhir yang diterima Radar Tarakan, jumlah manifest penumpang sebanyak 55 orang. 10 orang meninggal dunia. Sementara jumlah yang selamat 44 orang.  

9 korban meninggal dunia sudah diserahkan ke pihak keluarga dan langsung dimakamkan. Sementara satu orang korban lagi, yang merupakan warga Jakarta masih berada di kamar mayat RSUD Tarakan yang rencananya akan dipulangkan besok menggunakan pesawat.

Salah seorang penumpang selamat, Ketua DPC Gerindra Tarakan, Rudi Hartono beserta rombongan Partai Gerindra Tarakan yang akan menuju Tanjung Selor turut menjadi korban tenggelamnya speedboat tersebut.

Pria yang juga merupakan anggota DPRD Tarakan ini menceritakan, sebelum keberangkatan, penumpang speedboat Rejeki Baru Kharisma ini memang sudah terlihat overload. Kondisinya berdesakan, bahkan ibu-ibu yang baru masuk ada yang tidak mendapatkan tempat duduk. Menurut perkiraannya, jumlah penumpang berkisar 50 orang bahkan lebih di luar dari penumpang anak-anak.

“Sebelum berangkat kami protes, ini sudah kepenuhan. Tapi mereka (pihak speedboat, Red.) mengatakan lima menit lagi. Nah selama lima menit itu kan masih ada penumpang yang terus menyusul masuk,” ungkapnya saat ditemui media ini, sekitar setengah jam pasca berhasil menyelamatkan diri dari insiden tenggelamnya speedboat Rejeki Baru Kharisma.

Bahkan di deretan kursi depan (berbedekatan dengan motoris), yang seharusnya hanya muat 5 penumpang namun kenyataannya diduduki sekitar 10 penumpang.  

“Teman-teman semua ada di kapal tersebut,” ungkapnya dengan ekspresi yang masih syok pasca kejadian.

Selain overload penumpang dan barang, dia sama sekali tak melihat jaket pelampung (life jacket) di dalam speed. Sempat ia tanyakan ke beberapa kawannya yang berada di depan, namun jawaban sama didapatkan olehnya. Sejak awal masuk tak melihat pelampung. “Itu yang dipakai korban-korban setelah dilemparkan orang-orang yang datang saat melakukan proses evakuasi,” ungkap Rudi, kesal.

Lantas bagaimana ia bisa menyelamatkan diri? Rudi menjelaskan, sekitar 5 menit saat speedboat lepas dari dermaga pelabuhan SDF, insiden nahas itu terjadi. Kapal yang diperkirakan seharusnya berkapasitas sekitar 40 orang itu mengalami oleng saat akan berputar ke kanan, lalu oleng ke kiri.

Menurutnya kapal oleng bukan karena arus ombak, melainkan banyaknya beban muatan yang dibawa speedboat yang dianggap melebihi kapasitas.

“Yang jelas kejadian sekitar 5 menit setelah lepas dari Pelabuhan SDF. Kejadiannya itu tak jauh dari ujung pelabuhan. Tidak ada nabrak batang atau ombak besar pun. Ini murni overload,” urainya seraya menambahkan keberangkatannya bersama tim dalam rangka menuju Tanjung Selor untuk menyampaikan laporan hasil penjaringan bakal calon Wali Kota Tarakan periode 2018 mendatang.

Kejadiannya begitu cepat. Saat badan speedboat masuk dalam air, puluhan penumpang saat itu berteriak histeris. Masing-masing berusaha menyelamatkan diri, dan posisinya pula dalam keadaan terjepit. Untuk menyelamatkan diri, ia berusaha memukul dan menendang kaca.

“Saya pukul tak berhasil, lalu tendang karena memang sudah panik, dan kapalnya langsung terbalik. Saat sudah menemukan celah, lalu keluar menyelam ke atas. Saya juga lihat anak-anak mau mukul kaca berusaha membuka jendela, tapi sulit dan kapalnya keburu terbalik,” paparnya.

Saat itu, dia juga sempat menolong salah seorang penumpang bapak-bapak, namun tak mampu membantu lebih jauh karena kondisinya pun dalam keadaan terjepit.

“Saya tarik bapak itu karena tak bisa berenang. Saya suruh pegangan di kapal dan jangan sampai terlepas biar mudah diselamatkan. Tapi selebihnya tidak bisa ditarik karena kapal sudah masuk ke dalam air. Saya hanya khawatir karena banyak anak-anak,” bebernya lagi.

Semua berkas laporan  penjaringan bakal calon dan akan disampaikan ke Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerindra Kaltara tak bisa diselamatkan.

“Sudah saya instruksikan ke semua personel yang ikut agar tinggalkan semua barang dan prioritaskan keselamatan masing-masing. Hp saya saja sudah basah dan ada yang hilang,” ujarnya.

Sebagai anggota DPRD, ia sangat menyesalkan insiden speedboat terbalik tersebut. Ia menegaskan akan melakukan tuntutan kepada instansi terkait atas insiden laka laut tersebut.

“Saya menutut  permasalahan yang mengancam masalah keselamatan manusia ini. Pertama, dari KSOP Tarakan, karena kami tidak melihat ada pengecekan penumpang yang hadir dan pengawasan dari sisi Standar Operasional Prosedur (SOP)-nya. Pelampung saja tidak ada. Lalu kedua, dari pihak Basarnas mungkin harus evaluasi karena kami kecewa, satu jam kejadian belum saya lihat muncul. Yang datang adalah Lantamal Tarakan dan kepolisian,” ujarnya.

Persoalan overload dan SOP ini ditegaskannya harus segera ditindaklanjuti instansi terkait. “Pada prinsipnya akan memproses dan menindaklanjuti agar tidak terulang ke depannya. khusus overload-nya dan SOP-nya,” tegas Rudi.

Terpisah, informasi dari salah seorang warga yang mengenal motoris speedboat, IL (nama diinisialkan), menyaksikan langsung saat keberangkatan speedboat yang lepas dari pelabuhan. Tak berapa lama, ia bersama rekannya melihat speedboat tampak oleng ke kanan.

“Saat oleng ke kanan itulah dia banting setir ke kiri, karena menghindari papan. Makanya langsung terbalik ke kiri,” ujar IL.

IL juga tak menyangka jika yang membawa speedboat bukan motoris yang biasanya membawa. Motoris biasanya justru menjadi ABK saja.

“Justru yang punya, biasa dikenal Boket itu yang bawa. Padahal setahu kami dia tidak pernah membawa speedboat besar,” ujar IL.

Pantauan IL hingga pukul 16.56 Wita, speedboat yang karam tersebut telah dievakuasi ke pinggir pantai tepat di belakang APMS Jembatan Besi.

Sementara itu, korban selamat lainnya yakni Safri, Camat Sekatak Buji Kabupaten Bulungan, masih tampak masih syok saat diwawancarai di RSUD Tarakan. Safri yang terlihat basah kuyup hanya terlihat tertunduk lesu, sambil membersihkan pakaian dan sepatu miliknya, saat terikut tenggelam dalam speedboat.

Di depan ruang IGD RSUD Tarakan, kedua tangan Safri terlihat keriput dan pucat, sesekali ia mencoba memeras kaus kaki berwarna hitam miliknya untuk segera dijemur. Saat dihampiri media ini, ternyata ia sedang menunggu istrinya Juraidah, yang sedang mendapatkan perawatan intensif di ruang IGD karena mengalami trauma.

Saat dihampiri, mata Safri terlihat berkaca-kaca, seolah-olah ia juga merasakan trauma berat akibat kejadian ini. Sembari menenangkan diri, Safri pun mencoba menceritakan bagaimana tragedi terbaliknya speedboat itu bisa terjadi, dan bagaimana ia beserta sang istri selamat dari maut.

Waktupun menunjukan pukul 11.20 Wita. Suara sirine mobil ambulance silih berganti keluar masuk IGD. Isak tangis keluarga yang menunggu korban pun, perlahan-lahan memenuhi depan pintu depan IGD. Safri yang berada dekat dengan para keluarga korban pun ikut merasakan suasana sedih. Secara perlahan, ia kemudian menceritakan kejadian nahas itu kepada pewarta.

Kemarin pagi, ia bersama istrinya baru saja tiba di Tarakan sepulang dari Jakarta. Dan pada pukul 10.40 Wita, ia bersama sang istri, menumpang speedboat Sumber Rejeki Baru Kharisma untuk kembali ke Tanjung Selor.

Safri mengingat betul, semua barang miliknya yang dibelanjakan dari Jakarta, sudah naik di atas kapal. Termasuk barang aksesoris mobil yang dibelinya.

Setelah semua penumpang sudah berada di dalam speedboat, barang bawaan juga sudah menumpuk dan diikat di atas speedboat. Safri bersama istri pun kemudian memilih duduk dekat pintu, lantaran ingin menikmati udara selama perjalanan menuju Tanjung Selor.

Speedboat pun kemudian jalan. Anak Buah Kapal (ABK) kemudian melepaskan tali dari tiang pelabuhan, yang menandakan speedboat siap jalan, para penumpang yang berjumlah kurang lebih 50-an itu, terlihat duduk manis, tanpa menggunakan life jacket  di badan. Di satu sisi, ada pula yang sedang mengurus anak kecilnya, karena rewel.

“Duduk-duduk manis aja bersama istri, dan sebagian ada penumpang yang bersama anaknya,” kata Safri mengingat kembali kejadian itu.

Lanjut Safri, kurang lebih 8-9 menit setelah bertolak dari pelabuhan,  tangis suara anak-anak kecil yang tadinya mengisi ruang speedboat, tiba-tiba berubah menjadi suara kepanikan. Para penumpang terlihat gelisah dan beberapa penumpang lainnya sudah tak berada di tempat duduknya.

“Kurang lebih pukul 09.48 Wita, langsung oleng. Kami pikirspeedboat yang dibawa motoris ini menabrak benda keras, padahal tidak ada sama sekali,” ujar Safri, menceritakan kronologis tenggelamnya speedboat yang ia tumpangi.

Tak menunggu waktu lama, kepanikan dan suara minta tolong terus terdengar. Ia yang berada dekat pintu pun, langsung mencoba menyelamatkan diri bersama sang istri dari dalam speedboat. Padatnya penumpang serta barang bawaan yang menumpuk, membuat Safri dan istri sempat mengalami kesulitan untuk menyelamatkan diri, karena sisi kanan speedboat sudah tenggelam bersama barang bawaan yang membuat proses tenggelam itu terjadi cepat.

“Saya mencoba membantu istri untuk menggunakan jeriken yang saya dapatkan sebagai pelampung. Karena, saat itu semua penumpang juga mencoba untuk menyelamatkan diri dan naik ke atas kapal,” ungkapnya dengan terbata-bata.

Safri kemudian mencoba menaikkan istrinya ke atas kapal, sambil dirinya bergantungan di sisi kiri speedboat. Kurang lebih 15 menit berada di dalam air, Safri pun berhasil menaikkan istrinya ke atas kapal, sementara kurang lebih 20an orang juga mencoba menaiki speedboat itu untuk bertahan hidup.

Tak lagi menghiraukan barang bawaan serta uang jutaan rupiah yang dibawa, Safri kemudian mencoba menolong penumpang lain yang masih terperangkap di dalam speedboat, dengan segala upaya yang ia miliki serta mengandalkan tangan untuk bergelantungan, ia mencoba memecahkan jendela kaca.

“Saya dan teman-teman lain mencoba memecahkan kaca jendela itu. Tapi, kaca itu begitu tebal sehingga tangan kami tidak kuat. Sementara orang-orang yang terjebak di dalam speedboat itu terus berusaha untuk keluar. Beberapa ada yang berhasil keluar dari jendela kaca sementara yang lain tidak bisa, karena harus berdesakan,” jelas Safri.

Teriakan tanpa suara, terus meminta Safri dan teman-teman lain untuk mencoba menolong penumpang yang masih berada di dalamspeedboat. Anak-anak terlihat sudah tak berdaya di dalam speedboat karena tak bisa bernapas. Nenek-nenek yang tadinya tertidur karena perjalanan pun harus merenggang nyawa.

Safri hanya bisa menyaksikan itu, padahal segala upaya sudah ia coba lakukan bersama dengan teman-teman lainnya. Tak beberapa lama kemudian,  speedboat kecil pun datang dan mencoba menolong Safri, istri dan beberapa penumpang yang selamat.

Speedboat ini memang tidak layak untuk jalan, berpuluh-puluh tahun lamanya saya menggunakan speedboat, ini pertama kalinya saya mengalami hal tragis dan memilukan ini,” katanya.

Dan saat ditanyakan, apakah saat sebelum berangkat, Safri beserta sang istri diarahkan menggunakan pelampung, dengan tegas Safri menjawab, tidak! “Tidak ada saya lihat pelampung dan juga tidak ada arahan dari motoris,” tuturnya.

Kondisi sang istri, dikatakan Safri, saat ini dalam keadaaan trauma akibat kejadian tersebut. “Luka tidak ada, fisik alhamdulillah, hanya saja istri saya trauma,” tuturnya.

TRAUMA NAIK SPEEDBOAT LAGI

Tak hanya warga Tarakan, Bulungan, dan sekitarnya saja yang menjadi korban nahas tenggelamnya speedboat Rejeki Baru Kharisma. Ada dua penumpang warga negara Jerman yang berniat ingin berlibur ke Pulau Derawan.

Ditemui Radar Tarakan, Felix (35) bersama istrinya Teressa (30), masih tampak shock, bingung dan tidak percaya atas tenggelamnya speedboat yang dia tumpangi menuju Tanjung Selor.

Sepasang suami istri ini jauh-jauh datang dari Jerman ke Indonesia, berniat untuk menikmati keindahan Pulau Derawan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim).

“Saya berencana menuju ke Tanjung Selor untuk masa berlibur di Derawan sekitar 4 minggu,” tuturnya menggunakan bahas Inggris, kemarin (25/7).

Felix tidak begitu ingat detik-detik tenggelam speedboat yang ditumpanginya tersebut. Saat berangkat dari Pelabuhan Tengkayu I SDF Tarakan, dia tidak begitu tau apakah penumpang diberikan pengarahan mengenai prosedur keselamatan atau tidak. Yang jelas Felix dan Teressa tidak mendapatkan life jacket. “Istri saya duduk tepat di samping saya,” ujarnya.

Diperkirakannya, penumpang yang berada dalam speedboat berkisar 50 orang. Dia melihat sebelum berangkat banyak muatan penumpang dan barang di atas speedboat. “Kejadian sangat cepat. Kapal mulai bergerak miring ke arah kanan, kemudian tegak lagi, lalu bergerak miring ke arah kiri dan akhirnya kecelakaan pun terjadi,” ujarnya.

Ketika kecelakaan terjadi, Felix langsung berpikir untuk segera keluar dari speedboat. Saat kondisi speedboat yang sudah dipenuhi air dia tidak lagi memikirkan untuk mencari life jacket. Karena kejadian tersebut sangat cepat maka dia begitu panik dan tidak memikirkan hal lain, termasuk apakah kru kapal memberikan arahan untuk menyelamatkan diri.

Air mulai masuk dari kedua sisi kapal dan memenuhi kapal tersebut. Dirinya sempat memperhatikan pelampung yang ada dan digunakan oleh para korban tidak mencukupi. Setelah berenang beberapa saat ia melihat banyak sekali orang mendatangi kapal dan menyelamati para penumpang.

“Semua orang yang berada di dalam kapal terlihat untuk segera mungkin keluar dari kapal tersebut,” tuturnya.

Kondisi sang istri, Teressa saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Dia  tampak shock dan trauma atas kejadian tersebut. Felix mengaku, atas kejadian ini, ia dan istrinya memutuskan untuk tidak menggunakan kapal/speed boat lagi. “Saya akan naik pesawat,” ujarnya.

DUA STAF KEMENTERIAN KESEHATAN RI JADI PENUMPANG

DARI 55 penumpang yang tercatat pada manifest speedboat Rejeki Baru Kharisma, ternyata ada dua staf Kementerian Kesehatan RI. Yakni Catur Mei Astuti dan Yuni Zuhraini, yang merupakan Staf Direktorat Gizi Kemenkes RI.

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Kabiro Humas Kemenkes, Oscar Primad membenarkan, ada dua staf Kemenkes yang menumpangi speedboat Rejeki Baru tujuan Tanjung Selor.

"Ada staf kemenkes dua orang, dalam speedboat tersebut, setelah mengikuti acara dari Dinas Kesehatan Provinsi (Dinkesprov) Kaltara," ungkap Oscar kepada Radar Tarakan, kemarin (25/7).

Dari informasi yang diterima Oscar, kedua staf tersebut dinyatakan selamat dalam tragedi terbaliknya speedboat tujuan Tanjung Selor.

"Sekarang sudah menjalani perawatan intensif di RSUD Tarakan," bebernya.

Atas kejadian ini, Oscar turut berduka cita atas peristiwa yang menimpa korban. dan semoga korban diberikan ketabahan. "Kami turut bela sungkawa yang mendalam atas musibah ini, keluarga yg ditinggalkan untuk tabah dan sabar. Yang selamat tentu nya dapat kembali pulih," tuturnya. (zia/eru/*/jhn/nri/ddq)

Baca Juga

Berita Utama Index

Kades Harus Senyum Dan Semangat !

Kades Harus Senyum Dan Semangat !

Rabu, 21 Februari 2018

Malinau-Aparat Pemerintahan Desa merupakan perwakilan pemerintah daerah guna untuk menjembatani dan memperpendek rentang kendali pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintah termasuk dalam pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan urusan pemerintahan

Berita Foto Index

Mars Korpri

Mars Korpri

Rabu, 21 Februari 2018

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya