img
img

Pertanian

Minggu, 09 Juli 2017 | Oleh: HMS04

Pemilik Karet Butuh Buruh Sadap

Pemilik Karet Butuh Buruh Sadap ILUSTRASI

MALINAU - Sejumlah pemilik perkebunan karet mengaku, saat ini belum bisa memanfaatkan potensi perkebunan mereka lantaran terkendala tidak adanya buruh sadap. Tenaga penyadap getah karet tidak sebanding dengan luas lahan.
“Beda dengan di daerah lain di Kubar atau Jawa. Buruh disana banyak, tapi kita sini mungkin belum ada,” ungkap Thomas, salah pemilik pemilik perkebunan karet di Mentarang.
Hal senada juga diakui sejumlah pemilik perkebunan karet yang tersebar di berbagai wilayah. “Kami juga pernah beberapa kali ikut pelatihan penyadapan. Tapi kalau menangani sendiri berat juga,” sambung Marthin, pemilik perkebunan di Malinau Utara.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malinau, Kristian Munet mengaku, saat ini baru hasil perkebunan sawit yang sudah terserap, karena keberadaan PT Bukit Borneo Sejahtera yang sudah beroperasi sejak 2014.
“Karena perusahaan itu, hasil panen sawit petani kita pasti terserap berapa pun banyaknya” terang Kristian Muned, beberapa waktu lalu.
Sebetulnya, kata Kristian Muned, komoditas lainnya seperti kakao dan karet sudah terserap. Tetapi, penyerapannya masih relatif kecil dibandingkan potensi yang ada. 
Menurut Muned, dengan adanya industri karet di Samarinda, saat ini hasil karet di Malinau memiliki peluang besar. Potensi karet di Malinau sangat besar, karena luas perkebunan karet sudah mencapai 2.493 hektar. Dari 2.493 hektar tersebut, 1.735 hektar diantaranya hasil pengembangan bantuan Pemkab lewat program pemberian bibit sejak 2011 hingga 2014 sebanyak 383.950 bibit.
“Produksi karet dari para petani saat ini mencapai 25 ton dengan rata-rata panen 52 kg per hektar. Hasil itu sudah terserap oleh beberapa pengepul,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, luas perkebunan karet masyarakat paling luas. Kedua perkebunan sawit yang saat ini mencapai 1.188 hektar, dengan 130,9 hektar merupakan bantuan dari pemerintah untuk 17.710 bantuan bibit.
Produksi sawit dari lahan yang tersedia sebanyak 9.372 ton atau 12 ribu kg per hektar. Komoditas lainnya adalah kopi yang perkebunannya mencapai 1.506 hektar. Produksi kopi mencapai 168 ton dengan rata-rata produksi 223 kg per hektar.
Kemudian kakao dengan luas perkebunan masyarakat sudah mencapai 1.621 hektare. Dari pemerintah melalui bantuan bibi mencapai  825 hektar. Produksi kakao mencapai 290 ton, dengan rata-rata produksi 371 kg per hektare.
“Permasalahan umum yang dihadapi para petani kareta adalah masalah penyadapan. Mayoritas para pemilik perkebunan karet yang sudah siap panen kebingungan mendapatkan buruh sadap. Akibatnya, banyak sekali lahan produktif atau siap panen sampai sekarang masih utuh,” ungkap Muned. (wh/korankaltara)

Baca Juga

Berita Utama Index

Prof Adri Patton, M.Si : Tidak Sembarang Menunjuk Orang Jadi Pembicara

Prof Adri Patton, M.Si : Tidak Sembarang Menunjuk Orang Jadi Pembicara

Jum'at, 17 November 2017

PROKAL.CO, TARAKAN – Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT) Prof. Adri Patton, M.Si mengatakan, penunujukkan Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si sebagai pembicara untuk pembekalan kepada 592 calon wisudawan dan wisudawati UBT yang dilaksanakan

Berita Foto Index

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya