img
img

Wisata & Budaya

Minggu, 09 Juli 2017 | Oleh: HMS04

Lepak Tau, Hati Suami Istri Dirantai dan Masuk Gong

Lepak Tau, Hati Suami Istri Dirantai dan Masuk Gong LESTARIKAN ADAT: Dalam prosesi adat, kedua mempelai didudukkan di atas gong sebagai simbol bahwa hati suami dan istri masuk dalam gong dan akan ditutup atau diikat dalam gong agar tidak berpaling hati. AGUSSALAM SANIP/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, MALINAU Prof. Dr. Adri Patton selaku Ketua Pabeka Tawai memberikan apresiasi atas niat dan ketulusan Ketua Adat Besar Apau Kayan Ibau Ala yang menikahkan putrinya dengan 2 tradisi. Pertama menggunakan tradisi Suku Adat Kenyah Dayak Lepak Tau, di mana tradisi sangat jarang dilakukan oleh masyarakat Dayak Kenyah Lepak Tau kecuali untuk keturunan tertentu.

Adri Patton sendiri, selaku akademisi dan putra Dayak juga sebenarnya sudah jarang melihat ada perkawinana Adat Dayak Lepak Tau seperti disaksikan dalam proses pernikahan putra Kepala Adat Besar Apau Kayan pada Kamis (6/7). “Saya hanya melihat menggunakan pakaian adat Dayaknya saja dan lain sebagainya. Tapi ini dilakukan dalam proses adat dan lengkap prosesinya,” terang Adri Patton yang juga Rektor univesitas Borneo Tarakan (UBT).

Adri Patton sendiri juga mengakui, dalam prosesi pernikahan secara adat tersebut, tetua adat memberikan nasehat kepada kedua mempelai menjadi satu rantai yang diikat dalam sebuah ikatan pernikahan. Rantai ini menjadi pemersatu agar kedua mempelai jangan berpisah-pisah. Karena itu, dalam prosesi adat, keduanya didudukkan di atas gong sebagai simbol bahwa hati dari suami dan istri ini masuk dalam gong itu dan akan ditutup atau diikat dalam gong agar tidak berpaling hati. Kemudian ada parang, yang melambangkan bahwa parang ini nanti mempelai pria akan bisa bekerja menghidupkan atau mencukupkan kebutuhan anak dan isrtri serta rumah tangganya.

“Hal ini menurut saya sangat aprseiatif kepala adat karena kegiatan ini mengingatkan kembali budaya masyarakat adat dan patut dilestarikan,” ungkap mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Malinau ini.

Karena, kata Adri Patton,  biasanya adanya tradisi itu kalau ada bertentangan dengan teknologi pembangunan maka adat itu akan ditinggalkan. Tetapi bagi Adri Patton, adat dan budaya seperti ini perlu dilestarikan semua etnis yang ada di Indonesia, khususnya masyarakat adat Lepok Tau ini untuk mentradisikannya. Adri Patton berharap jika adanya adat tradisi suku Dayak ini dikalaborasikan dan bisa disatukan lagi. Sehingga akan muncul keindahan seperti warna pelangi yang sangat indah dan jangan sampai ada yang menonjolkan satu etnis saja. Sehingga tidak meninggalkan yang lain.

“Oleh karena itu, mari kita sama sama mengembangkan adat ini dengan bersama sama agar supaya berjalan dan dilestarikan,” ujarnya. Menurut Adri Patton, apa yang dilakukan Bupati Dr. Yansen TP MSi dalam kegiatan Irau semasa Adri Patton Menjabat Sekda Malinau masing-masing stan ada budaya dari bebagai suku dan adat  lokal Malinau dan lain sebagainya dalam upaya pembinaan pemerintah. “Hal itu juga jadi bentuk salah satu upaya melestarikan budaya dan istiadat lokal Malinau ini. Termasuk kegiatan ini bisa berkembang melalui keluarga. Tetapi tetap pemerintah sebagai stabilisator dan motivator bagi masyarakat dalam mengembangkan dan melestarikan dan menjaga budaya dan adat istiadatnya masing-masing,” tukasnya.(ida/udn) 

Baca Juga

Berita Utama Index

Prof Adri Patton, M.Si : Tidak Sembarang Menunjuk Orang Jadi Pembicara

Prof Adri Patton, M.Si : Tidak Sembarang Menunjuk Orang Jadi Pembicara

Jum'at, 17 November 2017

PROKAL.CO, TARAKAN – Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT) Prof. Adri Patton, M.Si mengatakan, penunujukkan Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si sebagai pembicara untuk pembekalan kepada 592 calon wisudawan dan wisudawati UBT yang dilaksanakan

Berita Foto Index

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya