img
img

Pemerintahan

Senin, 19 Juni 2017 | Oleh: HMS04

Lembaga Adat Hadir Sebagai Kekuatan Pembangunan

Lembaga Adat Hadir Sebagai Kekuatan Pembangunan BUKA MUBES : Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si saat memukul gong tanda resmi dibukanya Mubes III, Lembaga Adat Dayak Lundayeh Kabupaten Malinau, Sabtu (17/6) di Gedung Olahraga Desa Wisata Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang. AGUSSALAM SANIP/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, MALINAU – Lembaga Adat Dayak Lundayeh Kabupaten Malinau, Sabtu (17/6) menggelar acara pembukaan Musyawarah Besar (Mubes) III di Desa Wisata Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang. Acara tersebut, dibuka secara resmi oleh Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si yang juga merupakan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL).

“Mohon izin, saya akan menyampaikan sambutan nanti dalam dua versi, saya sebagai Bupati Malinau dan saya sebagai Ketua PDL,” ujar Bupati Yansen TP memohon izin mengawali sambutan.

Dikatakan, momentum mubes ini sangat luar biasa, karena harus belajar dari banyak hal dan itu menurutnya merupakan acara yang membanggakan. Untuk itu, secara khusus, sudah barang tentu dirinya memberi apresiasi yang tinggi kepada jajaran pengurus Lembaga Adat Dayak Lundayeh Kabupaten Malinau yang telah demisioner. Sebab, dengan tekad dan semangat sebagai tokoh adat, tetap menjaga kehadiran lembaga adat sebagai kekuatan adat Lundayeh di tengah-tengah proses pembangunan di Kabupaten Malinau.

Ia juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Lembaga Adat Dayak Lundayeh Kecamatan Mentarang yang telah bekerja dengan baik, sehingga acara mubes bisa terlaksana. Dan terkhusus, ia juga menyampaokan apresiasi dan terimakasih kepada tokoh-tokoh Lundayeh yang telah memberi support yang sangat besar dan berarti bagi semua.

“Kepada kita semua yang hadir, tentu, saya sebagai pimpinan daerah menghargai ini sebagai suatu bentuk partisipasi kita membangun Kabupaten Malinau,” katanya seraya menegaskan bahwa apa hubungan lembaga adat dengan pembangunan tentunya ada. Karena lembaga adat juga merupakan salah satu kekuatan pembangunan.

Dalam acara tersebut, sebagai pimpinan daerah, ia juga mengkoreksi panitia dan juga camat. Karena, dalam pertemuan atau mubes, selain bendera merah putih, harusnya ada gambar presiden dan wakil presiden serta lambang negara, yaitu burung Garuda Pancasila yang bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika.

“Jadi ini bukan barang main-main. Kita mengawali segala sesuatu bentuk di Kabupaten Malinau ini harus mencerminkan kehadiran negara,” katanya menegaskan kepada panitia dan camat agar ke depannya setiap acara harus lengkap symbol-simbol negara di tempat acara.

Alasan bupati menyinggung, itu karena masyarakat Malinau adalah Warga Negara Indonesia (WNI). “Tegak dan berdirinya negara ini, karena kita. Lundayeh sebagai satu kekuatan pembangunan, sekali lagi,  kekuatan pembangunan, harus menghadirkan identitas kita dengan sebaik-baiknya sebagai kekuatan pembangunan. Dan kenapa saya singgung Bhineka Tunggal Ika, karena Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Apa yang berbeda? Siapa yang berbeda? Kenapa berbeda? Itulah bangsa Indonesia. Itulah bangsa dan negara kita,” ungkapnya.

Hakekat perbedaan itu, lanjutnya, dilihat dari identitas-identitas yang dimiliki oleh setiap warga negara dan bangsa. Dari Sabang sampai Merauke sudah jelas banyak memiliki keberagaman, walaupun satu pulau, satu provinsi, kabupaten, ataupun satu suku dan agama, tentu di dalamnya juga memiliki keberagaman.

Begitu juga dengan Kalimantan, dihuni beraneka ragam suku. “Dayak ini beragam juga, ratusan. Kita masuk Lundayeh, Lundayeh itu juga ada keragamannya. Kalau kita ke Krayan, ada aneka ragam bahasa,” urainya.

Oleh sebab itu, sebut bupati, keberagaman merupakan kekayaan, kekuatan, keindahan dan kesempurnaan bangsa kita. “Coba lihat gedung ini, kalau tidak ada pilar-pilar ini tidak akan berdiri kokoh. Itu artinya kekuatan yang menopang,” ujarnya mengumpamakan.

“Tangan ini kalau tidak lengkap, tidak sempurna. Tangan kuat, tapi punya tangan tanpa jari yang lengkap, tidak akan bisa megang. Begitulah model bangsa kita yang memiliki keberagaman itu,” tambahnya. Maka, sebagai warga negara harus saling menghargai dan harus mencintai bangsa ini melalui mencintai keberagaman yang ada.

Lebih lanjut dikatakan, pemerintah daerah sudah membuka ruang yang luas dan besar, untuk bagaimana semua budaya berkontribusi dan menghadirkan diri sebagai kekuatan pembangunan. Hal itu dimaksudkan tidak lain adalah untuk memperindah, memperkuat dan memperkaya Malinau.

“Kalau Lundayeh yang hidup di beberapa kecamatan ini, yang sudah ribuan ini, mampu menjaga keutuhan Lundayeh, mampu memelihara persatuan Lundayeh, mampu menjaga kehormatan Lundayeh, mampu menghadirkan budaya Lundayeh, saya yakin akan menjadi penguatan bagi yang lainnya. Kalau semua melakukan itu, akan luar biasa Malinau. Seperti apa yang sudah dilakukan saat ini,” tuturnya.

Ia sangat menghargai dan bangga kepada masyarakat Lundayeh, secara khusus lembaga adat yang telah menghadirkan kapasitas budaya Lundayeh di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Malinau. Ia pun meminta agara terus dilakukan dan hidupkan itu sebagai bagian mencintai dan membangun Kabupaten Malinau.

“Saya ucapkan selamat melaksanakan musyawarah, semoga terpilih pengurus yang baru, yang betul-betul berpikiran memajukan Lundayeh, mempersatukan, memperkuat dan memperbesar semangat Lundayeh turut serta membangun Kabupaten Malinau, bangsa dan negara kita,” pungkasnya. (ags/fly)

Baca Juga

Berita Utama Index

APBD Tahun 2018 Ditetapkan

APBD Tahun 2018 Ditetapkan

Rabu, 13 Desember 2017

PROKAL.CO, MALINAU – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPDB) Kabupaten Malinau tahun 2018 telah disetujui dan ditetapkan menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2018. Persetujuan dan penetapan dilakukan dalam

Berita Foto Index

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya