img
img

Wisata & Budaya

Senin, 11 Desember 2017 | Oleh: hms04

Kunjungi Desa Terbersih di Dunia dan Tempat Kerajinan Perak

Kunjungi Desa Terbersih di Dunia dan Tempat Kerajinan Perak DESA TERBERSIH: Ketua TP PKK Kabupaten Malinau Ping Yansen besereta rombongan saat mengunjungi Desa Wisata Penglipuran, Selasa (28/11) di Kabupaten Bangli, Bali. Desa ini merupakan salah satu desa terbersih di dunia. AGUSSALAM SANIP/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Tak terasa rombongan TP PKK Kabupaten Malinau sudah masuk hari ketiga kunjungan kerja (kunker) di Bali. Sesuai jadwal, di hari ketiga, Selasa (28/11), mengunjungi Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli dan pengrajin perak di Bara Silver, Kabupaten Gianyar.

AGUSSALAM SANIP, Bali

SETELAH hari sebelumnya belajar dan mendapat ilmu dari TP PKK Kabupaten Gianyar dan Klungkung serta dari pengrajin tenun songket dan endek, maka di hari ketiga kembali menggali ilmu, tapi tentang kerajinan perak dan melihat langsung kehidupan masyarakat Desa Wisata Penglipuran yang merupakan salah satu desa terbersih di dunia.

Pagi pukul 7.00 Wita, rombongan sudah memasuki mini bus. Perjalanan dari hotel menuju Desa Wisata Penglipuran sejauh 40 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam.

Sesampainya di Desa Wisata Penglipuran, udara sejuk daerah pegunungan ini langsung terasa dan langit pun masih berkabut. Pertama kali menginjakkan kaki, sudah terlihat rapi, tertib dan bersihnya lingkungan desa yang menjunjung tinggi adat istiadat ini.

Pewarta yang ikut dalam rombongan ini pun segera mengeluarkan kamera untuk mendokumentasikan desa terbersih di dunia tersebut. Rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten Malinau Ping Yansen ini pun menapaki satu persatu jalan yang terbuat dari paving block serta batu besar yang disusun rapi direkatkan dengan semen.

Saat menaiki jalan yang menanjak, Ketua TP PKK Kabupaten Malinau sempat merasa khawatir jalan licin. Melihat kekhawatiran itu, warga Desa Penglipuran yang kebetulan berpapasan langsung menyapa dengan ucapan selamat datang dan memberitahukan agar tidak perlu takut melewati jalan sekira lebar 2 meter tersebut.

“Tidak apa-apa Bu, jalannya tidak licin,” ujarnya.

“Iya Bu, terima kasih,” sahut Ping Yansen.

Sambil melihat-lihat rumah, taman dan tata ruang desa, rombongan juga menyempatkan diri menyapa siswa-siswi salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Bangli yang sedang melakukan praktik pelajaran menari.

Saat Ping Yansen menanyakan kenapa yang laki-laki juga menggunakan make up, mereka pun menjawab bahwa semua laki-laki dan perempuan harus bisa memerankan tari, baik sebagai laki-laki atau perempuan. Tak lupa, rombongan pun menyempatkan diri mengabadikan momen berfoto bersama para siswa-siswi yang menggunakan pakaian adat khas Bali.

Untuk mendapatkan info lebih jelas tentang Desa Penglipuran dan mengecek bersihnya rumah warga hingga ke dalam rumah, rombongan pun memasuki salah satu rumah warga. Rombongan langsung disambut pemilik rumah dengan mengucapkan selamat datang dengan kedua tangan mempersilakan masuk.

Rumah khas Bali memang memiliki keunikan dan mempunyai bangunan-bangunan tersendiri, baik tempat masak, istirahat dan lain sebagainya. Bangunan-bangunan tersebut sangat tertata dan di bawah kolong pun sangat bersih.

Untuk memastikan kebersihannya, rombongan dipersilakan masuk ke dapur yang menurut pemiliknya adalah dapur tradisional turun temurun dari keluarganya.

“Ini dapur tradisional,” jelas Yudiani, perempuan 55 tahun pemilik rumah.

Ketua TP PKK Kabupaten Malinau dan Wakil Ketua II TP PKK Kabupaten Malinau Maylen Wempi pun masuk ke dalam dapur dan mencoba menyalakan api dengan kayu bakar. Di dalam dapur tersebut, ada dipan untuk berbaring beristirahat. Di bawah kolong dipan dan pinggiran tungku memasak sangat bersih. Melihat hal tersebut, pantas saja desa ini disebut sebagai salah satu desa terbersih di dunia.

Ping Yansen pun penasaran dan bertanya kepada Yudiani, kenapa desa tersebut dan rumah-rumah penduduk bisa bersih seperti itu. Yudiani menjawab, bahwa itu memang perilaku dan kepribadian secara turun temurun keluarga dan desanya.

“Memang dari dulu (bersih). Malu kalau enggak bersih,” katanya dengan lihat Bali yang masih kental.

Dari dapur, rombongan pun menanyakan di mana tempat ternak atau hewan peliharaan ditempatkan. Rombongan pun kembali dipersilakan melihat tempatnya yang agak jauh dari rumah.

Di kandang hewan peliharaan, rombongan pun terkesima, karena juga bersih tak seperti di kandang hewan peliharaan lainnya. Memang bau dari hewan peliharaan masih terasa, tapi tidak terlalu menyengat.

Rombongan kembali masuk ke lingkungan rumah Yudiani dan menanyakan berapa jam sehari untuk bersih-bersih rumah dan lingkungan rumah. Ia mengatakan cukup satu jam sehari meluangkan waktu untuk bersih-bersih.

Menurutnya, walaupun ada sanksi sosial dan sanksi dari desa apabila melanggar peraturan membuang sampah atau tidak membersihkan lingkungan, mereka tidak merasa terbebani, karena kebersihan memang wajib dijaga. “Memang tergantung dari orangnya mau bersih atau tidak, tapi inilah budaya (bersih) kita di sini yang terus kita junjung tinggi, karena kita juga desa wisata,” ungkapnya.

Setelah puas bertanya, rombongan kembali berkeliling desa. Di jalan desa tersebut tidak ada kendaraan bermotor lewat dan kendaraan warga di parkir di tempat parkir khusus yang agak jauh dari rumah warga atau tepatnya di parkir dekat jalan raya.

Tak terasa tiga jam waktu berlalu di Desa Penglipuran, rombongan pun meninggalkan desa tersebut dengan penuh catatan dan inspirasi untuk diterapkan di Kabupaten Malinau yang saat ini Pemkab Malinau di bawah kepemimpinan Bupati Malinau Dr.  Yansen TP M. Si memang mempunyai program unggulan yaitu RT Bersih yang mana di dalamnya mencakup tata kelola kehidupan manusia yang rapi, tertib, bersih, sehat, indah dan harmonis.

Rombongan sempat singgah di Agrowisata Abian Kusuma Sari untuk melihat langsung tanaman kopi, proses Kopi Luwak, hingga membuat kopi dan tentunya mencicipi kopinya.

“Di Malinau kan banyak kebun kopi, bagus juga di buat seperti ini,” ucap Ping Yansen sambil menyeruput kopi.

Saat memasuki mobil, sopir memberitahukan bahwa ada hujan abu dari erupsi Gunung Agung. Dan terlihat di kaca dan atap mobil ada abu yang menempel. Perjalanan terus berlanjut dan istirahat makan siang di salah satu rumah makan.

Walaupun hujan turun, usai makan, rombongan melanjutkan ke tempat kerajinan perak Bara Silver di Jl. Setra, Celuk Sukawati, Kabupaten Gianyar. Sekira pukul 14.00 Wita, rombongan sampai di tempat pengrajin perak tersebut dan langsung disambut pemiliknya, yaitu Putu Sudiadnyani.

“Selamat datang di tempat kami Bu,” ucapnya kepada Ketua TP PKK Kabupaten Malinau dan rombongan.

Ia pun mempersilakan melihat langsung koleksi-koleksi hasil kerajinan perak yang pengrajinnya buat. Setelah itu, ia juga mengajak ke lokasi pembuatan di bagian dalam rumahnya. Di situ, ia menjelaskan bagaimana tahapan membuatnya.

Ketua TP PKK Kabupaten Malinau pun menyampaikan maksud dan tujuannya bahwa ingin belajar dan ia juga menanyakan apakah bisa suatu saat kader PKK atau warga Malinau belajar membuat kerajinan perak di tempatnya.

Pemiliknya pun menyilakan dan sangat senang bisa bekerja sama. “Boleh Ibu, kami siap membantu,” tutur Putu Sudiadnyani, perempuan yang mengaku bahwa dirinya dulu adalah seorang pemandu wisata.

Rombongan kembali melihat koleksi dagangan Bara Silver tersebut. Tentu, karena kualitasnya bagus, rombongan pun ada yang membeli perhiasan yang terbuat dari perak dan bahan lainnya.

“Mudah-mudahan kita di Malinau bisa membuat kerajinan perak dengan motif khas Kalimantan, khas Malinau,” ujar wanita yang akrab disapa Ping ini.

Sebelum pulang, sambil berbagi ilmu, rombongan dipersilakan mencicipi bubur kacang dan rujak khas Bali. Setelah saling bertukar nomor telepon, rombongan pun pamit kembali ke hotel. Pemilik Bara Silver pun mengantarkan hingga halaman rumah.

Keesokan harinya, Rabu (29/11) rencananya rombongan akan kembali ke Malinau dan akan terbang melalui Bandara Ngurah Rai pukul 20.30 Wita menuju Jakarta dan lanjut ke Tarakan. Namun, karena bandara ditutup akibat erupsi Gunung Agung, keberangkat rombongan pun diubah menjadi pukul 14.00 Wita menggunakan bus melewati penyebrangan Gilimanuk, Bali menuju Banyuwangi dan langsung ke Bandara Juanda Surabaya selama kurang lebih 14 jam. Dari Bandara Juanda Suarabaya, pukul 12.00 Wita, Kamis (30/11), rombongan tiba di Tarakan pukul 18.00 Wita dan keesokan harinya menuju Malinau. (habis)

Baca Juga

Berita Utama Index

Ping Yansen: “Kami Semua Sayang Papah”

Ping Yansen: “Kami Semua Sayang Papah”

Selasa, 16 Januari 2018

PROKAL.CO, MALINAU – Sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, Ping Yansen beserta anak-anaknya mengundang para pejabat daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat serta staf di jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau untuk menghadiri acara syukuran

Berita Foto Index

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya
[WIDGET KOMINFO] 09 Jan 2018 13:46 - ARTIKEL GPR - Presiden Tegaskan Rakyat Harus Jaga dan Pelihara Kesatuan di Tahun Politik | 04 Jan 2018 13:23 - ARTIKEL GPR - Asuransi Perikanan Senjata KKP Lindungi Pembudidaya Ikan Kecil | 27 Dec 2017 13:25 - ARTIKEL GPR - Penyerahan Sertifikat Kompetensi Peserta Pemagangan 2017 oleh Presiden Republik Indonesia | 22 Dec 2017 09:57 - ARTIKEL GPR - Perempuan Berdaya untuk Indonesia | 19 Dec 2017 10:33 - ARTIKEL GPR - Peringatan Hari Bela Negara 2017