img
img

Info Nasional

Sabtu, 16 September 2017 | Oleh: HMS04

Perbatasan Rawan Peredaran Pil Ilegal

Perbatasan Rawan Peredaran Pil Ilegal ILUSTRASI

PROKAL.CO, JAKARTA -  Insiden satu anak meninggal dunia dan 53 anak kritis di Kendari karena mengonsumsi pil paracetamol cafein corisoprodol (PCC) akibat bujuk rayu keji bandar obat-obatan ilegal.  Hal ini pun turut diwaspadai penggunaan dan peredaraanya di Kalimantan Utara (Kaltara) khususnya Tarakan. Hal ini pun turut diwaspadai penggunaanya di Tarakan.

Untuk diketahui, obat PCC merupakan obat keras yang biasa digunakan untuk mengurangi sakit. Sebagian dokter menggunakannya untuk obat jantung. Karena itulah penggunaan obat tersebut tidak boleh sembarangan, harus dengan resep dokter.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menuturkan, obat PCC bukan merupakan narkotika, tapi bisa disalahgunakan untuk kepentingan seakan-akan narkotika. ”Efeknya menenangkan,” jelasnya, kemarin di kantor BNN.

Obat PCC tersebut juga bukan narkotika jenis flakka seperti yang disebut-sebut. Kandungan flakka adalah alfa PVP yang berbeda dengan dengan obat yang dikunsumsi anak-anak tersebut. ”Bukan narkotika jenis baru itu,” jelas Arman. 

Namun, kandungan obat PCC yang meracuni anak bangsa di Kendari itu masih perlu untuk diuji laboratorium. Sehingga, dapat dipastikan dengan tepat, benarkah hanya obat PCC atau ada kandungan lainnya. ”Langkah uji laboratorium itu penting, koordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan,” paparnya.

Dari penyelidikan sementara diketahui bahwa bandar menjualnya Rp 25 ribu untuk 20 butir obat PCC tersebut. Dengan harga semurah itu memang dipahami dijangkau untuk anak-anak. ”Segitu harganya sesuai pengakuan sejumlah saksi,” tuturnya.

Saat ini seorang bandar obat PCC berinisial ST telah diamankan dengan kedapatan membawa 2.631 butir PCC di Kendari. Bila dihitung omzetnya untuk 2.631 butir itu dengan harga Rp 25 ribu per 20 butir, maka bandar hanya mendapatkan Rp 2.631.000.

Arman menjelaskan, perlu dilakukan penyelidikan yang mendalam untuk mengetahui motif tersebut. Benarkah bandar menyasar anak-anak ini motif ekonomi atau justru ada motif lainnya. Pertanyaan paling mendasar adalah mengapa anak-anak SD dan SMP ini yang disasar. ”Nah, harus diselidiki, sengaja ingin merusak anak banga atau bagaimana,” terangnya.

Selanjutnya, juga akan ditelisik sumber dari obat-obatan tersebut. Siapakah yang bisa membuat obat keras ini beredar dipasaran, hingga sampai ke tangan bandar yang menjualnya ke anak-anak. ”Sumber obat ini penting untuk mencocokkan motif yang sebenarnya,” urainya.

Ditambahkan, Kepala BNNK Tarakan Hj. Agus Surya Dewi yang tetap akan memonitoring peredaran PCC di Tarakan yang nantinya, akan bekerja sama dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kaltim-Kaltara, untuk bisa mengetahui kandungan dari pil tersebut.

“Yang pasti ini harus segera ditindaklanjuti. Waspada kepada semua orang tua di Tarakan, jangan sampai anak-anak menjadi korban,” tutur Dewi sapaan akrabnya.

Meski insiden ini tidak terjadi di Kaltara, Dewi mengimbau agar para orang tua bisa lebih waspada dan mengingatkan anak-anaknya, agar tidak mudah menerima tawaran atau pemberian orang dari orang lain. “Pencegahan lebih baik daripada mengobati,” ucap Dewi.

Sementara itu, Kepala Pusat Penyidikan Obat dan Makanan Badan POM Hendri Siswadi menuturkan pil PCC tidak layak disebut sebagai obat. Lantaran Badan POM tidak pernah mengeluarkan izin edar untuk pil tersebut. ”PCC itu produk ilegal dan bukan obat. Namanya obat kan untuk menyembuhkan penyakit. Bukan sebaliknya,” ujar Hendri, kemarin (14/9).

Dia mengungkapkan sedang mempersiapkan diri untuk terbang ke Kendari. Sudah ada koordinasi dengan Mabes Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk meneliti lebih lanjut peredaran PCC di Kendari. ”Kami sebelumnya tidak tahu produk ilegal ini sampai membuat suasana gaduh. Apa betul hanya itu saja?” ungkap dia.

BPOM, salah satunya, akan fokus untuk meneliti kandungan bahan dari pil putih itu. Informasi yang beredar, PCC itu terdiri atas paracetamol, carisoprodol, dan cafein.

Hendri menuturkan carisoprodol sudah dilarang peredarannya. Lantaran, bahan tersebut dulu dipakai untuk membuat carnophen yang ternyata disalahgunakan. Obat yang berfungsi untuk mengatasi nyeri dan ketegangan otot telah dicabut izin edarnya. Obat terebut bisa menimbulkan efek halusinasi seperti narkotika.

Terpisah, Kepala BPOM Samarinda, Fanani juga mengungkapkan jika pihaknya memastikan pil ini belum tersebar di Kaltim dan Kaltara. Sebab, kejadian yang terjadi saat ini bukan di wilayah kerjanya. Namun, BPOM Kaltim dan Kaltara akan mewaspadai dan menindaklanjuti laporan dari masyarakat, yang resah akibat insiden yang terjadi di Kendari ini.

“Kami akan segera menindaklanjuti laporan ini, karena kami juga belum tahu apa kandungannya jadi diharapkan masyarakat Kaltim dan Kaltara bisa waspada dan berhati-hati,” ungkapnya.

Sementara itu, Mendikbud Muhadjir Effendy mengakui, pelajar-pelajar di kawasan terdepan Indonesia rawan menjadi korban penyalahgunaan obat-obatan. Terutama, obat yang diselundupkan melalui perbatasan. Dia sudah berbicara dengan sejumlah gubernur yang memiliki kawasan perbatasan agar lebih perhaian kepada para pelajar. Sebab, mereka merupakan sasaran empuk para pengedar obat-obatan.

“Mereka (pemda) sudah kerja keras, tapi banyaknya jalan tikus di bentangan ratusan kilometer itu sangat merepotkan,” terang Muhadjir di gedung Perpusnas kemarin. Paling banyak obat-batan itu diselundupkan melalui Kalimantan, dari daratan Malaysia.

Disinggung tingkat kerawanannya, Muhadjir menyatakan kemendikbud fokus pada sejumlah kawasan di tengah dan utara Indonesia. ’’Tidak semuanya wilayah terdepan, tapi memang ada beberapa yang berbahaya,” tambahnya. Terutama Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku bagian utara.

Peredaraan narkoba dan barang-barang ilegal lainnya juga tidak ditampik oleh Gubernur Kaltara, Iranto Lambrie yang mengatakan,terdapat 14.000 jalur tikus yang tersebar di sejumlah wilayah Kaltara.

Sehingga jalur tikus inilah yang digunakan para pengedar narkoba untuk menyeludupkan narkoba, minuman keras dan lainnya. Dari informasi yang dia dapatkan setiap minggu akan ada pengedar yang membawa 5 kilogram (kg), 25 kg, hingga 900 kg sabu dengan melewati jalur tikus ini. Semuanya berasal dari Cina yang melewati Cina Selatan, lalu masuk ke Malaysia. Dan dari Malaysia masuk melalui perbatasan, dari perbatasan dikirimkan ke Parepare, Makassar lalu ke Jakarta.

“Karena masalah ini, Kaltara ada di posisi 5 yang paling berat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Bahkan anak-anak sudah mengonsumsi narkoba, dan minuman keras itu ada sampai berton-ton. Ini ancaman berat dari jalur-jalur ini,” jelas Irianto Lambrie beberapa waktu lalu. (*/yus/jpg/nri)

Baca Juga

Lima Desa Dapat Penghargaan Kamis, 23 November 2017

Lima Desa Dapat Penghargaan

Keputusan Tetap Pada Gubernur Kamis, 23 November 2017

Keputusan Tetap Pada Gubernur

Berita Utama Index

Bupati Lantik 28 Kepala Desa

Bupati Lantik 28 Kepala Desa

Kamis, 23 November 2017

PROKAL.CO, MALINAU - Pelantikan dan pengambilan sumpah janji kepala desa (Kades) terpilih periode 2017-2023 oleh Bupati Malinau Dr Yansen TP MSi  di ruang Tebengang, lantai 2, Kantor Bupati, Jalan Pusat Pemerintahan, Tanjung Belimbing, Selasa (21/11)

Berita Foto Index

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya