img
img

Pertanian

Rabu, 09 November 2016 | Oleh: HMS04

Diminta Terapkan Sistem Tanam Jajar Legowo

PROKAL.CO, MALINAU - Penanaman padi unggul di wilayah Kecamatan Malinau Utara mewajibkan petani untuk menerapkan teknis yang sudah dianjurkan oleh Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan. Yaitu dengan menggunakan system tanam padi jajar legowo.

Ini diungkapkan Handoko, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)Kecamatan Malinau Utara. Dengan cara ini diharapkan dapat memenuhi target kebutuhan pangan swasembada beras dan mendukung program beras daerah (Rasda). “Cara tanam padi sistem jajar legowo ini ada 4 metode yaitu jajar legowo satu dua, satu tiga dan jajar legowo satu empat atau satu lima,” ungkap Handoko .

dijelaskan Handoko, dalam penanamannya memang terdapat perbedaan. Jajar legowo satu dua atau lainnya itu perbedaannya satu kebutuhan bibit, kebutuhan bibit itu berbeda antara jajar legowo 1 dan 5.  Jika satu dua bibit itu lebih sedikit, tapi anakannya lebih banyak dan akan lebih bagus nantinya. Namun yang mebedakan antara jajar legowo lainnya masing-masing yaitu satu empat sama satu tiga memiliki kelebihannya masing-masing, termasuk  dari kebutuhan bibit juga berbeda. “Yang produktivitasnya cukup baik ya jajar legowo yang ganjil, satu tiga atau satu lima.Tapi tidak terlalu jauh perbedaannya dengan yang genap,” jelasnya.

Sebab, lanjut Handoko, untuk tanam padi pola ganjil itu antara jarak tanam yang sangat berbeda yakni untuk padi unggul itu menerapkan jarak tanam antara 25x25 cm per tanaman. Sedangkan jarak jajar legowonya itu mencapai 40 cm atau 50 cm. jarak tanaman bisa 20x20 cm. Legowo itu sendiri berasal dari kata relat atau merelakan.

Dalam pertanian, maknanya menghilangkan satu atau dua baris dijadikan jarak tanam legowonya. Tujuannya supaya mendapat pencahayaan maksimal dan mendapatkan fotosintesis itu agar pencahayaan lebih baik. “Kita bisa contoh tanam padi yang dipinggir pematang itu lebih bagus, karena mendapat pencahayaan yang cukup maksimal. Makannya ada teknik yaitu seperti jajar legowo,” paparnya.

Dirinya juga menegaskan, selama ini capaian-capaian atau target produktivitas belum tercapai. Oleh karena itu, jika semua petani sudah bisa menjalankan sistem tanam dengan sistem jajar legowo sangat dimungkinkan kebutuhan beras dari petani lokal daerah akan terpenuhi. Namun demikian, para petani sebagain besar sudah menerapkan sistem jajar legowo dan mengikuti jejak PPL dan real di lapangan itu jelas sangat berbeda. Handoko sendiri pernah mengamati dari tahun 2001 sampai 2014, petani yang tradisional itu dalam satu hektare hasil panennya hanya mncapai 2,2 ton saja.

Tapi setelah menerapkan teknis-teknis yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian yang betul –betul dengan intensif yakni perairan bagus dan menggunakan poupuk berimbang,dan panen tepat waktu, maka produktivitasnya akan meningkat bisa memcapai 3 ton sampai di atas 6 ton. “Bahkan, di Mentarang itu tertinggi, satu hektare 9,2 ton dan titik terendah itu untuk lahan sawah yang 2,2  ton, itu dengan cara tradisonal itu, petani tebas, tanam, dan ditinggal serta tidak diberikan pupuk sampai panen,” cerita Handoko.(ida/aan)

Baca Juga

Pemilik Karet Butuh Buruh Sadap Minggu, 09 Juli 2017

Pemilik Karet Butuh Buruh Sadap

Hasilkan 7,78 Ton Per Hektar Senin, 23 Januari 2017

Hasilkan 7,78 Ton Per Hektar

Berita Utama Index

APBD Tahun 2018 Ditetapkan

APBD Tahun 2018 Ditetapkan

Rabu, 13 Desember 2017

PROKAL.CO, MALINAU – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPDB) Kabupaten Malinau tahun 2018 telah disetujui dan ditetapkan menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2018. Persetujuan dan penetapan dilakukan dalam

Berita Foto Index

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya