img
img

Peternakan

Senin, 22 Agustus 2016 | Oleh: humas07

Malinau Seberang, Desa Budaya Serindit

Malinau Seberang, Desa Budaya Serindit BURUNG SERINDIT : Sebelum menganti, memperlihatkan keindahan bentuk dan suara burung masing-masing. AGUSSALAM SANIP / RADAR TARAKAN

MALINAU-Dalam rangka persiapan launching Desa Malinau Seberang, Kecamatan Malinau Utara sebagai Desa Budaya Serindit pada bulan Oktober nanti. Bupati Malinau Dr Yansen TP MSi, Ketua DPRD Malinau Wempi W Mawa SE, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Drs Kristian Radang MSi, Kepala Dinas Tata Kota Drs H. Edy Marwan MSi yang juga tokoh masyarakat Desa Malinau Seberang, serta beberapa pejabat lainnya dan Kepala Desa (Kades) Malinau Seberang Syamsul bersama beberapa warganya melaksanakan nganti (menangkap Burung Serindit, Red) bersama di Desa Setarap, Kecamatan Malinau Selatan Hilir, Sabtu (20/8).

Sekitar pukul 10.00 wita, rombongan menuju Desa Setarap, lokasi yang dituju tepatnya di pertigaan Setarap dan Batu Kajang, setibanya di lokasi, rombongan beristirahat sejenak dan makan siang. “Tujuan kami ke sini yang pertama ingin mempersiapkan Desa Malinau Seberang untuk launching sebagai Desa Budaya Serindit, kemudian untuk itu perlu langkah-langkah yaitu salah satunya nganti bersama yang dilaksanakan hari ini,” ujar H Edy Marwan saat diwawancarai media ini di lokasi nganti, Sabtu (20/8).

Diceritakan H Edy, budaya nganti merupakan istilah yang dikenal masyarakat Kabupaten Malinau dan sekitar Provinsi Kaltara. Tradisi nenek moyang sebagai cara menangkap burung dengan memanjat pohon. Kemudian menggunakan talukan (perangkap) dan talukan dipasangkan getah dan ditempelkan di dahan atau ranting kayu yang sudah dipoles, serta kemudian Burung Serindit yang ada di sangkar digantung di pohon di jadikan umpan untuk memanggil burung serindit lainnya.

Namun, dikatakannya, sekarang sudah ada perubahan, karena sudah lumayan berumur dan susah untuk memanjat pohon, maka menggunakan bambu atau kayu untuk dijadikan tiang untuk menaruh perangkap. Dan sekarang ini, jelasnya lebih lanjut, lebih banyak dan sering menggunakan stik pancing, karena lebih mudah untuk tarik ulur. “Inilah salah satu budaya yang akan kita kembangkan dan bisa dijadikan destinasi wisata,” ucapnya.

Menurutnya, Burung Serindit ini populasinya tidak akan habis, dan akan terus ada di mana-mana, tidak seperti Burung Murai Batu dan Cucak Hijau. “Burung Serindit ini kita pelihara meskipun dari lahir, masih merah sampai sepuluh tahun tidak akan jinak, kalau dilepas dia akan tetap liar,” sebutnya.

Untuk menangkap Burung Serindit ini, lanjutnya, tidak sembarang orang bisa melakukannya. Ada tips dan trik yang bisa membuat daya tarik menjadi destinasi wisata. Kualitas suara burung untuk memanggil burung lainnya tergantung bagaimana bentuk burung itu. Maka dari itulah tidak semua orang bisa menilai bagus tidaknya Burung Serindit. “Bahasanya juga orang tertentu saja yang bisa memahami makna bahasa serindit yang bagus, yang baik dan mana yang tidak,” Tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, tradisi penangkapan nganti Serindit ini ada sejak zaman nenek moyangnya dulu. Sebab itulah masyarakat Desa Malinau Seberang melestarikan budaya ini. Alasan itu pula membuat Desa Malinau Seberang nanti sesuai komitmen dan sesuai dengan arahan bupati, akan dijadikan sebagai Desa Budaya Serindit.

“Serindit ini kan dari dulu kita tangkap, karena beliau (bupati, Red.) melihat animo masyarakat cukup tinggi dan ini merupakan salah satu budaya yang memang dikembangkan dari zaman ke zaman, belum kita lahirpun ini sudah berkembang, sehingga beliau menangkap isyarat itu dan langsung disampaikan beliau, Pak Edy, Pak Kades, bagaimana Desa Malinau Seberang kita jadikan Desa Budaya Serindit, sesuai budaya yang dikembangkan di Malinau Seberang, nah inilah salah satu konsep dan ide beliau yang menangkap tentang kegemaran atau hobi dari masyarakat kita,” bebernya.

Sementara itu, Kades Malinau Seberang Syamsul membenarkan bahwa kegiatan nganti ini dalam rangkan persiapan launching Desa Budaya Serindit di Desa Malinau Seberang. “ Iya, ini rencana launching kita nanti bulan Oktober, Desa Malinau Seberang menjadi Desa Budaya Serindit, inisiatif ini sebenarnya dari beliau (bupati. Red.) untuk persiapan nanti pada bulan Oktober,” katanya.

Saat H Edy Marwan memperlihatkan bagaimana cara memasang perangkap, bahan yang digunakan serta jenis burung yang bagus untuk menjadi umpan memanggil burung lainnya, serta kerumitan lainnya, Bupati Malinau Dr Yansen TP MSi meminta H Edy Marwan untuk membuat buku tata cara atau pedoman menganti  agar tidak hilang dimakan zaman. “Buat pedomannya ya Pak Edy,” ujar bupati singkat sambil memperhatikan cara memasang perangkap.

Untuk diketahui, pada saat nganti bersama, H Edy Marwan mendapat dua ekor, Ketua DPRD mendapat satu ekor, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan satu ekor dan yang lainnya juga ada yang dapat dan ada yang tidak. “Inti dari nganti bersama ini adalah silaturahmi dan hiburan, karena di saat-saat inilah kebersamaan terjalin dan membawa kebahagiaan tersendiri. Kita makan bersama dan digigit nyamuk pun sama-sama, tapi kalau pakai lotion anti nyamuk ya tidak digigit,” tuntas H Edy sambil tertawa. (ags/fly)

Baca Juga

Berita Utama Index

Bupati Lantik 28 Kepala Desa

Bupati Lantik 28 Kepala Desa

Kamis, 23 November 2017

PROKAL.CO, MALINAU - Pelantikan dan pengambilan sumpah janji kepala desa (Kades) terpilih periode 2017-2023 oleh Bupati Malinau Dr Yansen TP MSi  di ruang Tebengang, lantai 2, Kantor Bupati, Jalan Pusat Pemerintahan, Tanjung Belimbing, Selasa (21/11)

Berita Foto Index

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya