img
img

Pertanian

Senin, 18 April 2016 | Oleh: hms07

Apau Kayan Miliki Lebih 33 Jenis Padi dan Ketan

Apau Kayan Miliki Lebih 33 Jenis Padi dan Ketan Dr Bibong Widiarti, Peneliti Independen saat menjadi juri menu berbahan baku lokal pada acara seminar perempuan dan Ketahanan Pangan (15/4).

Malinau- Potensi sumber pangan di wilayah Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan dinilai sangat baik. Bahkan sangat banyak jenis padi lokal yang bisa dipertahankan sebagai salah satu tulang pungung sumber pangan dari masyarakat adat, terutama masyarakat di wilayah  pedalaman dan perbatasan.Hal ini disebutkan oleh Dr Bibong Widiarti selaku peneliti independen yang melakukan penelitian pangan di dua wilayah tersebut.

Namun untuk sumber pangan jenis umbi-umbian pun, jenisnya tidak terlalu banyak yang dikonsumsi oleh masyarakat pedalaman dan perbatasan di kawasan hutan Heart of Borneo (HoB). Hal itu kembali disampaikan Dr Bibong Widiarti, writer and organic educator, peneliti independen bekerjasama dengan WWF Indonesia melakukan kaji tindak untuk ketahanan pangan dan biodiversity atau keragaman pangan dari wilayah provinsi Kaltara, khususnya lebih banyak dari kawasan (HoB). Melihat kondisi dan potensi yang ada, menurut Bibong Widiarti, dari hasil penelitian di beberapa desa yakni di wilayah Apau Kayan memang masyarakat tidak ada yang memproduksi secara besar-besaran. Terutama produksi padi, dengan jenis varietas yang lebih dari 33 jenis padi dan ketan itu potensinya sangat baik.

Secara umum hasil pertanian padi masyarakat di wilayah Apau Kayan Kabupaten Malinau itu sebenarnya surplus atau kelebihan produksi meski hanya melakukan penanaman sekali dalam setahun. “Dalam kondisi ini, kesulitan mereka sebenarnya adalah bagaimana memasarkan produk mereka karena infrastruktur yang tidak memadai,” ungkapnya.

Selain sumber pangan padi-padian dan umbi-umbian, sebut Bibong, di kawasan hutan HoB itu juga terdapat banyak buah-buahan lokal dan berbagai macam sumber protein hewani yang dinilai cukup banyak sekali. Semua itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal disekitar kawasan hutan tersebut. Sedangkan bumbu-bumbu dapur atau herbal juga bisa digali dari masyarakat sesuai dengan kondisi dari wilayah tersebut.

Sementara itu, untuk pangan pengolahan masyarakat sekitar hutan HoB lebih pada sebatas mengolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja dan hanya dilakukan secara sederhana.

“Sedikit sekali yang melakukan fermentasi karena biasanya mereka mengkonsumsi produk mereka habis pada hari itu juga. Jadi, mereka jarang mengawetkan karena tidak ada sarana untuk penyimpanan seperti pendingin dan lain sebagainya,” jelas Bibong.

“Tapi, ada juga warga yang menjaga kualitas pangan itu tidak menurun yaitu dilakukan permentasi dengan cara pengasapan agar tidak rusak,” imbuhnya.

Menurut dia, jika memang diproduksi secara spesifik dan unik, dinilai cukup positif. Namun demikian, jika dimassalkan atau diseragamkan produksinya maka masih terbentur dengan kondisi karakteristik yang berbeda, daya tahan berbeda, termasuk juga jenis-jenis padinya juga sangat berbeda. “Kalau saya lihat, bukan hanya prospek tetapi masih perlu sosialisasi dan pengenalan bahwa Indonesia itu sangat kaya. Ini baru di beberapa titik di wilayah Kaltara,” tegas Bibong Widiarti.

Karena itu, Bibong Widiarti sangat mengharapkan agar masyarakat dapat mempertahankan secara turun temurun terhadap hasil pertanian padi dengan puluhan jenis varietas tersebut, karena memang sesuai dengan kondisi dan karakterisitik masyarakatnya. “Mereka biasanya hanya menanam satu kali tetapi dilakukan secara tumpang sari sehingga dinilai sangat efektif dalam menggunakan atau menggarap lahannya,”tukasnya (Radar Tarakan)

Baca Juga

Berita Utama Index

5 (Lima) Raperda di sah kan

5 (Lima) Raperda di sah kan

Rabu, 15 Agustus 2018

Malinau - Rapat Paripurna ke – 4 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Malinau Masa Sidang II Tahun 2018 dengan acara Persetujuan dan Penetapan DPRD Kabupaten Malinau terhadap 5 (Lima) Raperda menjadi Peraturan Daerah (Perda) Kebupaten Malinau

Berita Foto Index

Mars Korpri

Mars Korpri

Rabu, 21 Februari 2018

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya