img
img

Kerajinan dan Produk Unggulan

Senin, 18 April 2016 | Oleh: hms07

Kreasi Ketahanan Pangan Ala Malinau

Kreasi Ketahanan Pangan Ala Malinau hasil kreasi olahan patin pada lomba masak pada acara perempuan dan ketahanan pangan (15/4). hms09

Malinau memiliki potensi wisata yang luar biasa besarnya. Bukan hanya wisata alam dan budayanya yang unik, tetapi kulinernya pun banyak yang unik. Dari sekian banyak, salah satunya adalah patin.

Malinau memiliki sumber perikanan air tawar terbesar di wilayah utara. Namanya Minopolitan, sebuah kawasan budidaya patin seluas 200 hektare yang berada di Desa Malinau Seberang, Kecamatan Malinau Utara. Kawasan ini menjadi kebanggan bagi Kabupaten Malinau. Sebab, mungkin sementara hanya Malinau yang memili Minopolitan terbesar di wilayah Propinsi Utara.

Sehingga tak heran daerah ini menjadi perhatian pemerintah daerah dan juga pemerintah pusat melalui kementerian perikanan dengan memberi perhatian lebih berupa bantuan.

Nah, dalam lomba penganan lokal yang digelar GOW Malinau di Aula Tebengang, Jum’at (15/4) lalu, ada masakan olahan patin. Dari sejumlah resep patin yang diolah, tak ketinggalan ada resep patin bakar.

Rasanya kenyal dan lembut semakin mantap dibalut sambal super pedas. Nama masakan patin ini adalah Lawid Tinum. Cara membuat dan membakarnya agak berbeda dengan cara pembuatan sate pada umumnya. Dituturkan pemilik resep Ny. Surti, daging patin sudah di potong kecil-kecil lalu dibumbui ini dibungkus dengan daun pisang dan dibakar di atas bara. Setelah matang langsung disajikan dengan sambal.

Bagi yang tidak suka penyedap rasa buatan yang mengandung MSG, bisa juga menggunakan penyedap rasa alami, daun riyep. Dan ibu-ibu yang tidak suka asap api, bisa juga membakarnya dengan wajan pemanggang yang lebih modern.

“Masakan ini gampang dipraktekan, karena sangat sederhana,” ujar perempuan berdarah lundayeh ini. Sekilas masakan ini nampak sederhana, namun bahan dasarnya yang berupa patin, tidak ada salahnya menjadi rujukan bagi yang mau mengembangkan kuliner khas Malinau.

Sebab, kawasan Minopolitan dan patin menjadi ikon utama Kabupaten Malinau di sektor perikanan. Warga pembudidaya ikan pun siap menantang para pengusaha kuliner yang mau mengkreasikan patin sebagai potensi besar daerah ini. “ Kalau hasil panen petani melimpah pemasarannya itu yang kami khawatirkan. Makanya kalau kebutuhan pasar lokal tinggi kan jelas menguntungkan petani,” ujar Supiansyah, warga Malinau Seberang.

Lain patin, lain pula pelian. Ikan yang terkenal dengan durinyayang super banyak dan ribet ini diperoleh dari bantaran sungan Malinau. Termasuk salah satu jenis ikan termahal di antara jenis ikan tawar lainnya. Harganya mencapai Rp 50 ribu. Meski berduri ganas, olahan ikan pelian juga tak kalah enaknya setelah dimodifikasi oleh ibu-ibu Persit Kodim 0910 Malinau.

Sekitar lima menu yang dilombakan dalam lomba permpuan dan ketahanan pangan, masakan sate lilit yang cukup menarik. Sate ini selain dibumbui bawang merah, bawang putih, dan jahe juga dilumuri dengan perasan santan kelapa kental. Dinamakan sate lilit karena ikan pelian yang mudah hancur setelah masak itu dililit dengan baluran kuning telur. Sehingga lezatnya ikan bakar pelian plus santan ini semakin kompleks. Apalagi tusukan sate yang digunakan dari batang serai. Wanginya melengkapi aromanya.

Selain ikan, masih ada sekitar 100an jenis makanan berbahan dasar tumbuhan lokal yang diolah sekitar 50 organiasi wanita di Malinau salam rangka menyambut hari kartini. Disebut bahan lokal, karena sebagian tumbuhan hanya hidup di hutan-hutan khusus. (Radar Tarakan/hms07).

Baca Juga

Berita Utama Index

APBD Tahun 2018 Ditetapkan

APBD Tahun 2018 Ditetapkan

Rabu, 13 Desember 2017

PROKAL.CO, MALINAU – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPDB) Kabupaten Malinau tahun 2018 telah disetujui dan ditetapkan menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2018. Persetujuan dan penetapan dilakukan dalam

Berita Foto Index

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya