img
img

Kerajinan dan Produk Unggulan

Senin, 11 April 2016 | Oleh: hms07

Daun Pahit berbuah Untung Manis

Daun Pahit berbuah Untung Manis Produk UKM : Kelompok UP2K Malinau Hilir, penganan berbahan dasar pertanian lokal

Malinau- Tidak terbayangkan, tidak semua orang bisa sanggup jika diminta mengunyah daun sirih yang super pahit itu. Tetapi lain ceritanya kalau daun yang mengandung jat antiseptik itu disulap menjadi olahan keripik. Benar-benar unik,selembar daun sirih utuh yang lebar itu rasanya gurih layaknya keripik. Daun sirih adalah satu dari keunikan puluhan produk usaha kecil menengah (UKM) yang sedang eksis di Malinau.

Konon katanya, keripik yang satu ini laris  manis diserbu terutama oleh kaum perempuan. Bukan karena sifat perempuan hobinya ngemil. Tapi khasiat daun sirih lah yang menjadi alasan konsumen betah mengunyah daun berasa pahit ini. Cemilan ini adalah karya kelompok UP2K Desa Malinau Hilir yang setiap tahun selalu berinovasi dalam pengembangan cita rasa produk.

Berkat dorongan pemerintah daerah atas penggunaan produk lokal, para perempuan diberdayakan untuk mengolah cemilan berbahan dasar produk pertanian lokal. Sedikitnya, sudah ada sekitar 50an jenis olahan yang telah terkemas rapi, diantaranya ada aneka stick, rempeyek, keripik, opak dan kerupuk plus beragam pilihan rasa berbahan dasar pisang, singkong, ubi jalar, sukun, jagung, kacang tanah, daun bayam, jengkol dan kedelai dan yang paling menarik yaitu daun sirih.

Terbaru, para ibu rumah tangga ini kembali melahirkan kreasi baru, yaitu keripik daun kenikir (Cosmos Caudatus, sp)yang di Malinau dikenal dengan saun Senikir, keripik Senikir ini dicetuskan oleh ibu Ina, anggota UP2K. bagi orang Jawa, daun ini mungkin sudah tidak asing lagi. Karena biasanya direbus dibuat lalapan.

“Rasanya gurih renyah mirip kerupuk daun bayam. Tapi tak menghilangkan rasa khasnya seperti mint. Waktu itu saya sedang buat kerupuk peyek, ternyata sisa tepungnya masih banyak. Nah, kebetulan didekat rumah saya banyak ditumbuhi daun senikir, tiba-tiba terlintas dibenak. Mungkin enak nih,” tuturnya sembari tertawa saat mengingat pengalaman isengnya.

Keripik senikir yang awalnya hanya untuk mengisi meja makan itu akhirnya dikembangkan di kelompok. “Kalau senikir ini masih baru sebulan lalu,” ucapnya.

Awal memproduksi untuk kepentingan pasar sekitar 10 Kg. Dia bersyukur, meski baru permulaan, produknya ludes terjual. Kedepan, dia optimis, senikir yang biasa tumbuh liar itu tidak lagi disia-siakan percuma. “Kami nekat mengembangkan cemilan sirih dan senikir itu karena alasan banyak manfaatnya untuk kesehatan,” ujarnya.

Dia menduga, dengan dikemas menjadi penganan gurih, lidah orang yang tidak suka pahit bisa berubah menjadi suka. Akhirnya daun sirih dan daun senikir ini pun menjadi daun berharga. “ Satu plastik ini kami menjualnya Tp 15 ribu,” ujarnya sembari menunjukan bungkusan kecil sekitar 500 gram.

Selain berkisah soal produk, anggota  UP2K lainnya Fatmawati, menuturkan model pengembangan produk lokal ini. Kelompok UP2K ini dibawah binaan TP PKK Kabupaten Malinau. Satu kelompok terdiri 5 orang, setiap anggota wajib memiliki resep masing-masing. Baru selanjutnya didompleng di dalam kelompok ini. Murni dari nol, mulai dari cara pengolahan, pengemasan, pembinaan sampai kepada pemasaran.

Dengan pembinaan yang terus menerus dilakukan oleh Disperindagkop-UMKM maupun TP PKK, anggota kelompok menjadi semakin mengerti ilmu ‘menyihir’ konsumen. Misalnya, untuk menjadi produk UKM yang bersaing, tentu harus memenuhi standar mutu yaitu ijin layak sehat serta sertifikasi halal. (Umi/Hms07)

Baca Juga

Produk  Lokal Gencar dipasarkan Selasa, 12 April 2016

Produk Lokal Gencar dipasarkan

Berita Utama Index

5 (Lima) Raperda di sah kan

5 (Lima) Raperda di sah kan

Rabu, 15 Agustus 2018

Malinau - Rapat Paripurna ke – 4 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Malinau Masa Sidang II Tahun 2018 dengan acara Persetujuan dan Penetapan DPRD Kabupaten Malinau terhadap 5 (Lima) Raperda menjadi Peraturan Daerah (Perda) Kebupaten Malinau

Berita Foto Index

Mars Korpri

Mars Korpri

Rabu, 21 Februari 2018

Berita Warga Index

Agenda Tentatif

Selengkapnya